Tepatnya tanggal 12 Juli 2011 saya pulang dari kampus, namun sebelumnya
saya pergi ke daerah Godean Jogjakarta untuk bertemu salah satu teman
saya. Pulang dari Godean sekitar pukul 19.00 WIB atau jam tujuh malam.
Terasa sangat melelahkan karena sebelumnya ada latihan Ujian Akhir
Program yang dilaksanakan oleh kampus saya.
Karena merasa lelah, lapar, dan haus saya berpikir untuk mampir di salah
satu warung melepas dahaga saya. Diwarung angkringan (warung wedangan
khas Jogjakarta)tepatnya di trotoar jembatan dekat Carre*ur Babarsari
lah tempat yang saya datangi. Sebelumnya saya belum pernah mampir di
angkringan itu. Segelas es teh dan satu bungkus nasi saya makan, setelah
makan dan minum, biasa menyalakan rokok saya lakukan. Saat itu saya
baru menyadari kalau penjual angkringan itu seorang bapak yang sudah tua
dengan logat jawa yang kental. Entah kenapa saya ingin mengobrol dengan
bapak itu. Basa-basi saya keluarkan untuk mengawali pembicaraan itu.
Penjual angkringan itu bernama bapak Yadi, perawakan kecil, tua, dan
memakai topi. Ngobrol ngalor-ngidul sampai waktu terasa cepat sekali.
Tak disangka ternyata bapak Yadi mempunyai bisnis lain selain
angkringan, beliau mempunyai bisnis lain yaitu loundry, persewaan motor,
dan kos-kosan 12 kamar. Dari bisnisnya ini pak Yadi bisa menyekolahkan 3
orang anaknya. Anak yang pertama sekarang bekerja di perusahaan LPG di
Bogor, anak yang kedua kuliah di Universitas Atma Jaya Jogjakarta, dan
anak terakhir baru di bangku SLTA. Beliau menceritakan cara mendidik
anaknya yang saya pikir sungguh luar biasa bagi seorang penjual
angkringan. Saya tidak menyangka seorang pak Yadi, penjual angkringan,
bisa membuka bisnis Loundry dan bisnis persewaan motor dengan memiliki
25 motor, Sungguh Luar Biasa. Dia menceritakan bahwa dirinya sering
direndahkan dan diremehkan karena berprofesi penjual angkringan, dan
saya yakin mereka belum tahu bisnis lain pak Yadi.
Pak Yadi hanya bisa pasrah ketika diremehkan oleh orang lain karena
penampilan dirinya yang maaf, dekil dan terlihat seperti gembel. Tapi
beliau tetap tenang, walaupun dibalik itu bisnis lain beromset jutaan
per bulan. Pak Yadi berpesan kepada saya bahwa jangan menilai orang dari
penampilan luar saja, karena penampilan bisa menipu, saya langsung
menangkap apa yang dimaksudkan pak Yadi. Beliau juga berpesan bahwa kita
harus senantiasa bersyukur atas apaun yang diberikan kepada kita,
rejeki sedikit ataupun banyak harus disyukuri. Saya pun heran dengan
penampilan pak Yadi seperi itu, saya tidak menyangka kalau dia pemilik
bisnis loundry dan persewaan motor yang sukses.
Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Hampir
tiga jam kami mengobrol dan tentu saja banyak nasihat-nasihat yang
sangat berguna bagi saya. Sebelum saya pulang kata-kata terakhir yang
diucapkan pak Yadi kepada saya yang membuat saya terkesan adalah "Mas,
wong tuwo ki nek anak e sukses lan berhasil ki ora njaluk diwenehi
dhuwit sing penting mikul dhuwur mendhem jero, wong tuwo ki wes seneng
banget" yang berarti "Orang tua kita apabila kita sukses tidak perlu
dikasih uang, karena dengan kesuksesan dan keberhasilan kita sebagai
anak sudah bisa mengangkat harkat dan martabat orang tua kita, itu sudah
cukup membuat bangga orang tua kita". Kata-kata itulah yang sekarang
saya ingat dari mulut seorang yah,,,bukan seorang motivator, manajer,
ataupun dosen, tetapi dari mulut seorang penjual angkringan. Saya salut
terhadap pak Yadi....Semoga semangat dan perjuangannya bisa kita
contoh....
semoga bisa menjadi motivasi kita ke depan
sumber : ngaskus