Saturday, September 22, 2012

Sepotong Kue di Meja Kerja Mu

22/09/12

Pukul 08:15 pagi terdengar lagu Scar Tissue dengan kerasnya, pertanda alarm berbunyi untuk membangun kan tidurku. Yang pertama ku lakukan adalah mengucap Alhamdulillah, mengucap syukur karena masih diberi nafas. dan yang kedua, kuteguk segelas air putih. Setelah itu aku mandi dan bersiap - siap untuk berangkat kerja. Jauh sebelum itu, aku punya rutinitas yang aku pikir, bisa membuat kepala ku pusing sendiri. yang sering aku lakukan adalah berencana dan menyiapkan apa yang harus kulakukan esok, untuk dia, aku dan setidaknya hal kecil yang berpengaruh untuk masa depan.
Pukul 09:00 siap untuk berangkat ke kantor, tapi sebelum ke kantor, aku mampir ke Sam's Bakery yang rencana ini sudah aku siapkan sebelumnya. Brownies kukus dan kue kering menarik perhatian, sehingga aku membeli kue itu dan aku sendirikan bungkusnya dengan kue yang lain.Setelah tiba di kantor, satu hal yang ingin aku lakukan adalah memberikan kue ini kepada sebut saja The Tion. Waktu itu sudah menunjukkan pukul 10:00 dimana aku harus sudah berada dalam ruangan sesak itu. di Meja The Tion, sangat padat karyawan sehingga aku tidak leluasa untuk memberikan kue ini. kondisi ini mendesak ku untuk mengawasinya melalui CCTV dan melihat celah nya dimana meja kerjanya sudah sepi dari padatnya karyawan. Lingkungan perusahaan lah yang membuat ku mempunyai ruang gerak yang sempit. Untuk kali ini aku melakukan kebodohan lagi.

Tidak lepas dari CCTV, fokus kerja pun agak terganggu. Sambil mengontrol pekerjaan, mata ini tak lepas untuk mengawasi CCTV. The Tion pun sudah tau kondisi ini, sehingga bisa memaklumi. Kondisi ini bertahan hingga sore hari dan 30 menit sebelum jam pulang, kue itu sudah tersampaikan.hufff.. lega rasanya, masalah simple yang kadang bisa membuat stress sejenak.

Saat memasuki malam hari, aku mendatangi meja kerjanya dan melihat ada sepotong kue diatas buku. Bukan kue pointnya. Hal ini tak hanya terlihat simple, karena kebingungan ku belum berujung hingga menemukan titik temunya. Semua persepsi akan muncul, tapi itu tak perlu dipikirkan. Perlahan akan terjawab.